Rabu, 18 Desember 2019

The Dropout Swordsman-Spamming the 100 Million Years Button - Chapter 13 Part 02 Bahasa Indonesia

Chapter 13 Part 2 – Akademi Pedang Seribu & Festival Suci Lima Besar [3]

“““Haa!?”””

Kami segera menjauh darinya kali ini.

“Nomor tahanan 0018 ... Jadi saya memanggilnya No.18. Nama yang bagus, bukan?”

Sensei memuji dirinya sendiri dengan mengatakan “Seperti yang diharapkan, indra penamaan saya memang sempurna!”.

“Tu-tunggu Leia! Apa yang kamu lakukan, membebaskan narapidana?”

“Nn, bukannya saya sudah bilang kalau No.18 adalah pelayanku? Persiapan dokumen, komunikasi, penjadwalan, dll – tugasnya mencakup berbagai macam!”

Dia berkata begitu nyaring, tanpa sedikit pun keraguan.

Rupanya, dia selalu menganggur karena dia membuang semua pekerjaannya ke No.18 -san.

Kali ini, giliran Rose mengajukan pertanyaan.

“Sensei, apa yang No.18 -san lakukan? Sampai-sampai dia dihukum penjara 100 tahun kerja paksa?”

“Umu, mengintip.”

Sensei langsung menjawab tanpa keraguan.

Di depan tanggapan yang tak terduga, aku mencari kepastian dan mengajukan pertanyaan.

“M-mengintip.... di ruang ganti perempuan atau di kamar mandi wanita .... apa itu maksudnya『 mengintip 』?”

“Oh, ya. Pria ini menyukai tubuh wanita .... terutama tubuh gadis remaja. Dia berulang kali melakukan tindakan kriminal (mengintip) di banyak akademi di seluruh negeri. Menurut kesaksian, dia juga telah mengintip ke dalam pemandian umum Akademi Pedang Seribu beberapa kali.”

Ria dan Rose yang mendengar itu,

“Uwaa, rendahan...”

“Musuh perempuan.”

Mereka memandang rendah No.18 -san dengan jijik seolah-olah melihat sampah.

Di tengah-tengah itu, satu hal menarik perhatianku.

“Pastinya mengintip itu kejahatan yang tak termaafkan ... tapi apa itu saja sudah cukup untuk dihukum penjara sampai seratus tahun?”

Seratus tahun penjara itu hampir seperti hukuman seumur hidup. Aku belum pernah mendengar kasus di mana hukuman untuk mengintip sangat berat.

“Fumu, penjelasannya sederhana... Pertama-tama, No.18 adalah alumnus dari Akademi Pedang Seribu. Dia pendekar pedang yang sangat terampil. Jadi, bahkan bila pengintipannya ketahuan, rata-rata Ksatria Suci tidak bisa melakukan apa-apa. Dan pada saat dia akhirnya tertangkap, dia telah mengumpulkan ratusan kejahatan (Mengintip)... .”

Dia seperti pengintip yang sangat kuat.

“Bahkan bila mereka berhasil memenjarakannya setelah berton-ton perjuangan, orang ini akan segera kabur. Memotong jeruji besi dengan tangan kosong, atau merobek dinding menggunakan sumpit dari makan siang layaknya pedang.” Jelas Leia-sensei, mengangkat bahunya sambil “Ya ampun~”.

“Dan dengan mengintip dan kabur dari penjara berkali-kali, masa hukumannya telah terakumulasi hingga 100 tahun.”

“O-oh, begitu...”

Kini, aku mengerti bahwa orang ini selain menjadi pendekar pedang yang sangat terampil, dia adalah orang cabul yang hidup demi mengintip.

 Lalu,

“K-kenapa kamu membiarkan orang berbahaya seperti ini tetap bebas!?” Ria melabrak sensei dengan pertanyaan yang bagus.

Rose juga mengangguk pada saat yang sama.

Gadis-gadis di usia target, tentu saja, menunjukkan reaksi negatif yang kuat terhadap fakta bahwa si Iblis Pengintip masih berada di akademi yang sama.

“Jangan khawatir, saat ini No.18 sama sekali tidak berbahaya. Karena saya mendidiknya dengan kuat ... Benarkan?”

Leia-sensei menepuk pundak No.18-san.

“T-Tentu saja, Leia-sama!”

Dia yang diam sampai sekarang, kini gemetaran di seluruh tubuh, menundukkan kepala berkali-kali, menjadi pucat.

(P-pendidikan macam apa yang dia lakukan.....??)

Aku penasaran, tapi aku terlalu takut untuk bertanya. Ini pasti sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang-orang.

“Selain itu, kepala No.18 juga bagus.
Dia memiliki gelar doktor dalam tiga bidang berbeda-beda. —Nah, singkatnya, saya menemukan orang ini melalui berbagai cara, dan saya memanggilnya ke sini dengan otoritas presiden untuk membantu pekerjaanku. Seperti yang saya katakan sebelumnya, orang ini sudah tidak berbahaya lagi. Kalian tidak perlu khawatir.”

“Oh, begitu ya...”

Ada banyak hal yang perlu dikhawatirkan, seperti kebocoran informasi dan kabur, selain mengintip di dalam akademi dan sebagainya ... Tetapi kalau Leia-sensei, si presiden, mengatakan dia tidak berbahaya, tak ada pilihan lain selain percaya. Ria dan Rose tampak belum yakin, tetapi mereka tidak lagi menekan No.18-san.

“Ups, pembahasannya sedikit melenceng. Dan istirahat makan siang juga hampir usai, jadi ayo kita langsung ke topik utama.”

Karena itu, dia berdeham.

“Saya pikir kalian mungkin sudah menebaknya, tetapi alasan saya memanggil kalian bertiga di sini ialah tak lain dan tak bukan karena berkaitan dengan Festival Suci Lima Besar. Seperti yang diberitakan di koran pagi ini, lawan kita pada pertandingan pertama .... ialah Akademi Raja Es! Bajingan itu!” Sensei tiba-tiba memperkuat suaranya dan membanting tinjunya ke meja.

“Aduh!!”

Dia segera melepas sarung tangan dan meniup tangan kanannya.

“““……”””

Rasanya seperti menonton monodrama satu perempuan.

“E-ehem ... Kalian yang baru mendaftar, tidak akan tahu detail sejarah akademi ini.
Saya akan menjelaskan di pelajaran kelas, tetapi sebelum itu, saya bisa menjelaskan sedikit. —Pertama, Akademi kita dan Raja Es memiliki persaingan yang indah selama bertahun-tahun. Di masa lalu, Akademi Pedang Seribu selalu yang terbaik, dan Akademi Raja Es adalah yang terbaik kedua di berbagai turnamen, termasuk Festival Suci Lima Besar. Terutama selama tiga tahun ketika saya masih siswa di Akademi Pedang Seribu. Saya memenangkan semua kompetisi — mereka bahkan menyebut kami generasi emas...”

Sensei berbicara nostalgia, dengan pandangan jauh di matanya.

(Jadi sensei, alumni akademi ini ...)

Sementara kami masih kaget dengan fakta mengejutkan, dia terus menjelaskan dengan nada yang lebih tenang.

“Tetapi zaman telah berubah –– mereka benar-benar telah berubah. Karena berbagai masalah, Akademi Pedang Seribu jatuh, dan seolah mengikuti, Akademi Raja Es juga jatuh. Publik ....... media menginginkannya menarik dan menggabungkan kekuatan melawan kita…. ––Awal Jatuhnya Ibukota & Awal Dari Akhir–– gelar seperti itu merajalela...” Sensei mengerutkan alisnya dan mengepalkan tinjunya.

Aku yakin sebagai alumni, itu fakta yang disesalkan dan menjengkelkan.

“Parahnya lagi, akademi kita bahkan kalah dari Akademi Raja Es .... Seperti yang kalian lihat, di setiap turnamen, Akademi Pedang Seribu sekarang ada di bagian bawah, dan tepat di atas kita adalah Akademi Raja Es...”

Leia-sensei meletakkan selembar kertas di atas meja yang merangkum hasil dari berbagai turnamen, termasuk Festival Suci Lima Besar.

(...Memang sih.)

Sejauh yang bisa aku lihat, tiga akademi teratas berganti urutan setiap tahunnya, tetapi dua akademi yang lebih rendah selalu konstan.

Selama lebih dari satu dekade, peringkat terbawah selalu Akademi Pedang Seribu, dan yang keempat adalah Akademi Raja Es.

“Juara abadi yang mendominasi tempat pertama dan kedua selama bertahun-tahun –– Akademi Pedang Seribu dan Akademi Raja Es kini hanya tinggal kenangan…. Dan karena kita tetap di bagian bawah selama ini, masalah pun terjadi...”

Kemudian setelah menarik nafas panjang-panjang, sensei melanjutkan tanpa jeda.

“Akademi Raja Es, yang pernah membangun persaingan indah dengan kita, menunjukkan taringnya pada kita. Seolah melampiaskan amarah karena selalu menjadi yang kedua selama masa keemasan kita, mereka mulai mengipasi api ke arah kita ... Pedang Seribu Bobrok & Aib Lima Akademi –– fitnah semacam itu dilemparkan ke mana-mana. Bajingan sialan itu, mereka mengungkapkan sifat asli mereka begitu kita menunjukkan kelemahan!”

Lalu,

“Apa-apaan itu, tak bisa percaya!”

“Tak termaafkan, Akademi Raja Es...!”

Bukan hanya Ria, tapi Rose juga tampak sedikit frustrasi.

Kemudian sensei, yang selesai berbicara tentang segala hal, menarik napas panjang lagi dan memasuki kesimpulan.

“––Begitulah, ini sebabnya kalian tidak boleh kalah dari Akademi Raja Es bagaimanapun caranya.
Dan kali ini, Festival Suci Lima Besar ini adalah turnamen pertama sejak saya menjabat. Saya ingin 『hasil yang luar biasa』 yang dapat mengalahkan Akademi Raja Es!”

Ria dan Rose mengangguk menanggapi sensei.

“Di sini! Inilah susunan terkuat yang saya buat tadi malam, bahkan tanpa memejamkan mata pun!”

Sensei membanting selembar kertas yang bertuliskan “daftar pemain” di atas meja.

Di sana, itu ditulis – Vanguard* Allen-Rodore, Inti* Rose-Valencia, Jenderal* Ria-Vesteria.

(TLN: * atlet yang bertanding di pertandingan pertama kompetisi tim
*atlet yang bertanding dalam pertandingan angka tengah dalam kompetisi tim.
*U know lah )

(Begitu ... barisan yang masuk akal dari sensei.)

Tadi dia terlihat sedikit antusias, jadi aku khawatir dia akan meletakkan susunan yang tak masuk akal, tapi ... sepertinya dia masih menyimpan ketenangan dalam hatinya.

(Seperti yang bisa aku tebak dari susunan pemain ini, peranku adalah memunculkan gaya bertarung, teknik, dan pola perilaku lawan...)

Tentu saja, idealnya kami ingin menang. Namun, apabila itu terbukti sulit, paling tidak, aku harus membutakan mereka dari mendapatkan informasi tentang kami.

Adapun inti, Rose. Pewaris sah dari Seni rahasia Gaya Sakura Blossom One Sword, ada di posisi 『Ace』 di jajaran ini. Setelah aku membutakan Vanguard musuh untuk mendapatkan informasi, dia dapat mengambil keuntungan dari aliran yang lahir di sana untuk menaklukkan inti dan jenderal musuh. Medan perang akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilannya.

(TLN: Butuh editor, untuk menerangkan di atas :v)

Dan terakhir, sang jenderal, Ria. Dialah satu-satunya yang bisa memanggil gaun jiwa.

Karena itu, dia adalah yang paling cocok untuk peran umum dalam hal kekuatan dan kemampuan keseluruhan. Bahkan, tanpa kecerobohannya dan harga dirinya, dia akan menjadi kekuatan yang hebat.

(Dengan kata lain, ini adalah susunan yang sangat solid, berpikiran kuat di mana aku, Vanguard, akan menguras tenaga lawan sebanyak mungkin, dan kemudian inti Rose dan jenderal Ria, yang telah menunggu, akan memberikan pukulan akhir.)

Saat aku mengangguk menyetujui daftar pemain,

“Nee, Leia. Kenapa Allen jadi Vanguard-nya? Biasanya, dia harus jadi jenderal, kan?”

“Itulah yang aku pikirkan. Harusnya kekuatan pertarungan terkuat ditempatkan di jenderal, kan?”

Ria dan Rose mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.

(Tidak tidak, sang jenderal seharusnya Ria. Entah dia atau Rose, mereka sama-sama paling tepat...)

Pertama, sang putri dari negara tetangga yang memanipulasi gaun jiwa 〈Fafnir〉.

(TLN: Dasar mc beta huh.

Sedikit FYI, Gaun Jiwa Ria sebenarnya ada nama lain yaitu “Raja Naga Pertama” atau “Raja Naga Asli/Origin”, untuk penjelasannya, nanti akan dijelaskan di chapter lain, karena saya tidak mau spoiler lebih jauh.)

Kedua, penerus sah seni rahasia, Gaya Sakura Blossom One Sword.

Mengabaikan kedua orang itu, dan menunjuk seorang pendekar pedang dari Akademi Ilmu Pedang Gran sebagai jenderal, pasti ada sesuatu yang tak beres ketika kau memikirkannya.

Kemudian, sensei tertawa bahagia seakan-akan ia sudah meramalkan pertanyaan seperti itu akan muncul.

“Fufufu, kalian sadar tidak –– ya, inilah strategi saya!”

“““Strategi?”””

Kami bertiga berbarengan menanyakan hal yang sama.

Sensei terbatuk “Ehem”, dan mulai berbicara dengan penuh percaya diri.

“Seperti yang baru saja saya katakan, yang kita inginkan adalah kemenangan. Namun, bukan sembarang kemenangan. Kemenangan sempurna dan luar biasa yang akan membuat orang-orang Akademi Raja Es itu menjadi bahan tertawaan...!”

Ria dan Rose mengangguk dengan ekspresi serius, sedangkan aku, tersenyum pahit. 

Aku pribadi lebih suka kemenangan sederhana dan pasti daripada kemenangan mencolok dan luar biasa.
Kemudian sensei melanjutkan berbicara dengan semangat tinggi.

“Seperti yang kalian semua tahu, Festival Suci Lima Besar adalah sistem menang tiga lawan tiga.
Dengan kata lain, jika Vanguard kita mengalahkan ketiga orang itu –– Akademi Raja Es, akan dikalahkan bahkan tanpa melihat wajah inti dan jenderal kita!”

“Aku mengerti...”

“Benar juga ... Kalau kita bertujuan untuk kemenangan yang tak terkalahkan, Allen harus ditetapkan sebagai garda depan.”

“Fufufu, tidak mungkin orang-orang di Akademi Raja Es akan bermimpi bahwa kekuatan pertarungan terbesar kita akan keluar terlebih dahulu, dan orang-orang yang menderita tiga kekalahan berturut-turut, akan berpikir begini ––.‘Vanguard saja sudah sekuat ini, maka monster macam apa yang ada di inti dan jenderal?!’ ?!! ”


“Uh! Kamu benar-benar menggunakan kepalamu, Leia! aku sama sekali tidak menyadarinya!”

“Di masa depan, Akademi Raja Es akan ketakutan dengan ilusi tak kasat mata dari Akademi Pedang Seribu ... tidak buruk.”

Ria dan Rose mengangguk setuju.

(T-Tidak tidak tidak, itu tidak masuk akal...)

Aku perlu menang tiga kali berturut-turut melawan tiga wakil tahun pertama, salah satu dari Lima Akademi, Akademi Raja Es?

(Mustahil, itu tidak mungkin....)

Tak peduli bagaimana kau mengatakannya, mereka terlalu melebih-lebihkanku. Bagiku, satu kemenangan saja sudah untung. Tanpa menyadari ekspresi pahit di wajahku, sensei tiba-tiba tertawa gembira.

“Fufu, saya sudah bisa membayangkan pemandangan orang-orang yang giginya menggigil karena keputus-asaan atas tiga kekalahan berturut-turut ...! Fufu, haha ​​... FUHAHAHAHAHAHAHAHA!”

■

Dan hari Festival Suci Lima Besar pun tiba.

Leia yang melihat daftar pemain yang ikut serta dari Akademi Raja Es yang diserahkan oleh panitia Festival Suci Lima Besar,

“Hei...! J-Jangan main-main ya ... Apa-apaan dengan daftar meremehkan ini...!?”

Giginya mengigil karena frustrasi.

Dukung saya supaya lebih semangat tl-nya dengan meng-klik ikon trakteer.id di bawah ini
Previous Post
Update lainnya