Kamis, 26 Desember 2019

The Dropout Swordsman-Spamming the 100 Million Years Button - Chapter 15 Part 01 Bahasa Indonesia

Chapter 5 Part 1 – Akademi Pedang Seribu dan Festival Suci Lima Besar [5]

Setelah aku mengalahkan Cain-san, aku pun kembali ke ruang tunggu Akademi Pedang Seribu.

“Luar Biasa! Luar biasa! Seperti yang diharapkan dari Allen!”

“Umu! Kau mengagumkan karena mampu menahan gaun jiwa tipe gangguan mental itu! Sungguh kekuatan mental yang hebat!”

Ria dan Leia-sensei menghujaniku dengan pujian.

“Terima kasih banyak ... tapi sensei, bagaimana bisa kamu tahu kalau gaun jiwanya Cain-san itu tipe gangguan mental?”

“Fuu, walau saya terlihat seperti ini, saya sudah terbiasa dengan Gaun Jiwa lho. Kalau kau amati gaun jiwa orang lain dengan teliti, kau pasti akan cepat memprediksi tipenya.”

“Begitu ya ... seperti yang aku kira.”

Aku tak terlalu terkejut ketika aku mendengar bahwa Leia-sensei terbiasa dengan gaun jiwa.

(Tak diragukan lagi, Leia-sensei sangat kuat.)

Selama tes praktik, dia-lah satu-satunya yang melihat tebasan Iai-ku, yang bahkan seorang pengukur veteran pun tidak bisa. Pendekar pedang hebat mesum yang memotong batang besi dengan tangan kosong dan merobek dinding menggunakan sumpit sekali pakai layaknya pedang――No.18-san bahkan tak menunjukkan keinginan memberontak di depan Leia-sensei.

Dan ketika dia masih murid Akademi Pedang Seribu, ia memenangkan setiap pertandingan di tiap turnamen –– dan disebut sebagai generasi emas.

(Aku ingin tahu seberapa kuat dia...)

Jujur aku cukup tertarik sebagai pendekar pedang.

(Begitu Festival Suci Lima Besar ini selesai, aku ingin meminta pertarungan tiruan dengannya.)

Ketika aku memikirkan hal itu, Rose menarik pakaianku.

“Allen ... bagaimana kamu bisa menggunakan teknikku?”

Dia bertanya dengan tatapan yang sepertinya mengatakan “Aku tak percaya itu”.

“Um, soal itu...”

Lalu aku menceritakan rincian lengkap dari pertarungan tadi. Aku terperangkap di dunia lain selama seratus tahun oleh kemampuan〈Hell Hundred〉 Cain-san. Ada persediaan minimum yang diperlukan sehingga aku bisa hidup tanpa ada ketidaknyamanan. Jadi, setelah dengan tekun mengayunkan pedang dalam latihan, aku ingat prinsip dasar, tipe, dan esensi dari sekolah yang aku pelajari dari teman-teman Kelas A. Hanya Gaya Sakura Blossom One-Sword Rose yang belum diajarkan, jadi aku menguasainya dengan meniru dari ingatanku.

Lalu,

“G-Gaya Sakura Blossom One-Sword yang kupelajari dari ayahku selama bertahun-tahun ... hanya dengan melihat dan meniru...!?”

Dia kehilangan kata-kata dan menggigit bibir bawahnya dengan frustasi.

Jantungku berdenyut karena suatu alasan meskipun aku tidak melakukan hal buruk.

“Eh, em ... itu ah! Tepatnya, teknik ini sedikit berbeda dari Teknik Rahasia Gaya Sakura Blossom One-Sword – Mirrored Sakura Slash! Ini sebenarnya kombinasi dari Eighth Sword-Yatagarasu! Jadi aku tak bisa meniru sepenuhnya.....”

“––Jadi, kamu memperbaikinya. Tak heran itu jauh lebih tajam dari milikku...”

Aku mencoba untuk memperbaiki suasana, tapi tampaknya aku malah memperburuknya.

“……”
“……”

Rose dan aku terdiam membisu, udara tak nyaman mengalir di atas kami.

Tatapan Ria dan Leia-sensei diam-diam memberitahuku “lakukan sesuatu” dengan mata mereka.

(A-Apa yang harus aku lakukan....)

Aku putus asa memeras kepalaku dan mencari ide bagus yang akan membuat Rose bersemangat lagi.

“Ah, itu ... benar juga! Aku akan mengajarimu lain kali! Mirrored Sakura Slash yang aku gunakan tadi!”

Dan Rose pun akhirnya mengangkat kepalanya.

“Be-Benarkah?”

“Aa, bagaimanapun, itu awalnya teknik Rose.”

“Te-terima kasih…!”

Dia tersenyum riang dan berterima kasih padaku.

(Fuu, aku senang dia kembali normal...)

Kemudian, ketika aku akhirnya mengatasi ketidaknyamanan ini,

“Semua orang, kami telah membuat Anda menunggu terlalu lama. Mulai sekarang, pertandingan kedua dari Akademi Pedang Seribu vs Akademi Raja Es akan dimulai!”

Pengumuman siaran langsung bergema.

“Semoga beruntung, Allen! Aku selalu mendukungmu!”

“Menang seperti sebelumnya.”

“Kau kuat – majulah dengan percaya diri dan banggalah di dadamu!”

“Ya terima kasih banyak!”

Dengan dukungan Ria, Rose dan Leia-sensei, aku maju ke arena pertarungan sekali lagi.

“Tanpa basa-basi lagi, Gerbang Barat - Vanguard dari Akademi Pedang Seribu, Allen-Rodore!”

Saat aku menginjakkan kaki ke arena,

“AKHIRNYAAAAA ALLEN!”

“Maju dan menaaaaaaang! Menangkan pertandingan ini, dan ini adalah kemenangan kitaaaaa!”

“Kau bisa melakukannya! Berjuanglah!”

Sisi barat - Tempat duduk penonton di sisi Akademi Pedang Seribu menunjukkan semangat yang luar biasa. Mungkin harapan mereka melejit karena aku menang di pertandingan sebelumnya.

“Selanjutnya, Gerbang Timur - Jenderal Akademi Raja Es, Sid-Euclius!”

Setelah pengumuman langsung, Sid-san muncul perlahan dari sisi yang berlawanan.

Sid Euclius. Dia berseragam biru dari Akademi Raja Es secara informal. Rambutnya yang seputih salju disisir berantakan dan kulitnya kecoklatan. Sorotan matanya tajam dengan pupil hitam. Itu adalah wajah ganas yang membuatnya mengeluarkan aura ganas.

Saat ia muncul, penonton di sisi timur - sisi Akademi Raja Es, benar-benar terdiam. Sorakan, memberi semangat, dukungan - tak ada satu suara pun yang mendukung. Sebaliknya, tak ada yang bahkan membuka mulut mereka - begitu sunyi sehingga tampak mencekam. Ada perbedaan yang mengejutkan dalam antusiasme antara tempat duduk penonton sisi barat dan timur. Tanpa memperhatikan semua itu, Sid-san bergerak ke tengah arena.

Entah bagaimana ... aku mengerti.

(Mungkin dia sangat kuat - bahkan mungkin yang terbaik di antara orang-orang yang pernah aku hadapi)

Aku merasakan sesuatu seperti aura yang sangat unik yang hanya dimiliki oleh yang kuat.

Ketika kami berdua berada di atas arena, komentator langsung menghidupkan suasana.

“Karena Akademi Raja Es tidak mendaftarkan Vanguard, kontestan Sid adalah Jenderalnya! Dengan kata lain, ini akan menjadi pertandingan terakhir! Jika kontestan Allen memenangkan pertandingan ini, Akademi Pedang Seribu akhirnya dapat bangkit dari tempat terendah untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir!”

Menanggapi kabar baik dari pengumuman tersebut, tempat duduk penonton Akademi Pedang Seribu semakin riuh dengan sorakan.

“Dan menurut informasi yang masuk sebelumnya... Keduanya otodidak! Mereka belum pernah menerima pengajaran pedang dari siapa pun! Saya yakin mereka akan menunjukkan kepada Anda pertandingan menarik yang non-konvensional!”

Saat berikutnya setelah komentator berkata demikian.

“Zaman sekarang masih belajar sendiri ... Pftttt, aku yakin ini akan jadi pertandingan level rendah...”

Ada beberapa penonton yang mengejek.

Mereka tak terkait dengan Akademi Pedang Seribu atau Akademi Raja Es - mungkin masyarakat umum. 

Jujur, ini membuat frustrasi, tapi ... wajar mereka bereaksi seperti itu. Meski ini adalah pertarungan umum, pastinya mereka akan kecewa mendengar kedua pendekar pedang itu belajar sendiri. Begitulah dinginnya persepsi publik terhadap 『otodidak』.

Ketika aku memikirkan itu, Sid-san tiba-tiba memasukan tangannya ke saku dadanya. Meraih pisau survival yang berjejer di bagian dalam seragamnya –– dia melemparkannya ke penonton tanpa ragu.

Itu lemparan asli dan kuat. Pisau itu terbang dengan kecepatan mengerikan ke orang yang mengejek kami sebelumnya.

“Hai ... Hii!?”

Pria yang ditargetkan secara reflek membungkuk di tempat dan untungnya menghindari pisau. Jika aku perhatikan lebih teliti dari kejauhan, pisau itu menancap kuat ke dinding sampai ke gagangnya. Kalau itu langsung mengenai kepalanya ... dia pasti akan mati.

“.....Cih, bisa dihindari ya.”

Sid-san yang tiba-tiba melakukan percobaan pembunuhan, sangat kesal karena pisau itu meleset. Maksudnya, ia tidak mencoba untuk mengancamnya atau sejenisnya - ia serius akan membunuh pria itu.

(Orang macam apa dia...?)

Sid-san perlahan membuka mulutnya saat seluruh tempat menjadi bising.

“Bajingan ... barusan kau menertawakanku?” katanya sambil melotot ke pria itu. Sid-san mungkin punya telinga yang tajam.

Nada rendah dan dingin bergema di seluruh tempat.

“T-Tidak, tidak! Itu tidak benar sama sekali!”

Pria itu dengan putus asa menggelengkan kepalanya, giginya mengigil karena sangat ketakutan.

“Aku sudah jelas mengingat wajahmu, ya? Jadi, berhati-hatilah saat menyusuri jalan di malam hari.”

“〜〜 !?”

Karena ketakutan, pria itu lari terbirit-birit dan meninggalkan tempat ini. Tempat ini terdiam dalam situasi yang mendadak tadi.

(Sid-san...)

Tak ada keraguan bahwa dia orang yang tajam.

(Ini bukan pujian, tapi ... yang tadi itu lemparan yang bagus.)

Ada sekitar seratus meter jauhnya dari sini ke kursi penonton itu. Apalagi sekarang ini tidak ada angin. Mengingat kondisinya, lemparan tadi adalah tembakan memukau yang tepat mengenai sasaran yang dituju. Pendengaran yang tajam, ketajaman penglihatan manusia super, kekuatan lengan yang kuat, dan rasa harga diri yang tinggi - hanya dengan melihat tindakannya saat ini, aku bisa menegaskan bahwa ia memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menjadi pendekar pedang tingkat tinggi.

(Toh dia bukan manusia biasa, pastinya...)

Tekanan saat saling berhadapan - jauh melampaui Ria dan Rose.

Di saat aku memikirkan itu, komentator langsung melanjutkan jalanannya Festival Suci Lima Besar dengan suara yang sedikit lebih keras dalam upaya untuk menghidupkan suasana.

“Uh, eeer ... Ada sedikit insiden, tapi mari kita mulai lagi! Di sini, saya ingin memulai pertandingan kedua Festival Suci Lima Besar!”

Sudah waktunya dimulai. Aku meraih gagang pedangku sambil menahan ketegangan dalam tingkat sedang.

”Apakah kedua pihak sudah siap!? Baiklah - Mulai!”

Pada saat yang sama ketika sinyal dimulainya pertandingan terdengar, aku mengeluarkan pedangku dan mengambil sikap seperti biasa - Seigan no Kamae.

Sementara itu, Sid-san perlahan menarik pedangnya, dengan cara yang sama seperti ia berpikir itu merepotkan.

(Aku sudah melihat berbagai bentuk sikap, tetapi baru pertama kali aku melihat yang seperti itu...)

Tak peduli seberapa banyak ia belajar secara otodidak, sikapnya terlalu aneh. Ujung pedang benar-benar mengarah ke bawah, seperti orang lesu karena mabuk. Hal semacam itu sama sekali tidak bisa disebut 『kuda-kuda』.

(....Apa kau memancingku? Atau ... meremehkanku?)

Sedikit jengkel mendidih di dadaku...

“Fuuu...”
Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan. Aku akhirnya mendapatkan kembali ketenanganku.

(Leia-sensei sangat waspada terhadap Ferris-san. Dan Sid-san di hadapanku, adalah pendekar pedang yang dinominasikan Ferris-san sebagai Jenderal.)

Pasti ada sesuatu yang istimewa dalam sikap ini yang tidak bisa aku mengerti.

(Jika aku gegabah seperti amatiran, aku tak tahu jenis kesulitan apa yang akan aku terima nantinya...)

Biasanya, saat kita saling memandang satu sama lain tanpa melakukan apa-apa, kita akan jatuh ke dalam kebuntuan. Namun, aku mempunyai teknik yang cocok untuk aku gunakan dalam situasi semacam ini.

“First Sword - Flying Shadow!”

Jika Flying Shadow yang aku tembak secara sepihak dari jarak jauh tanpa menutup jarak, aku bisa melihat bagaimana lawan akan bereaksi.

(Sekarang, bagaimana tanggapanmu...!?)

Tebasan yang terbang dalam garis lurus ke arahnya - tiba-tiba menghilang.

“Hah!?”

Mataku melebar secara refleks.

(A-Apa yang terjadi...!?)

Sid-san belum bergerak sedikit pun dari sana.

Meski begitu ... Flying Shadow-ku tiba-tiba lenyap tanpa jejak.

(Apa artinya ini...? Apa yang dia lakukan...?)

Aku mengamatinya tapi ... meski ia berada di tengah pertandingan, mulutnya terbuka lebar seperti sedang menguap. Tak ada tanda-tanda kalau ia melakukan sesuatu sama sekali.

(Mungkin ... dia sudah memanifestasikan semacam gaun jiwa!?)

Masuk akal. Ada berbagai kemampuan Gaun Jiwa seperti 〈Hell Hundred〉 dan〈Fafnir〉. Jadi pasti ada kemampuan yang sepenuhnya menangkal jenis tembakan peluru dan tebasan terbang.

(Pokoknya ... Sekali lagi!)

Aku mengayunkan pedangku ke bawah lebih kuat dan lebih cepat dari sebelumnya.

“First Sword - Flying Shadow!”

Tebasan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya melaju ke arah Sid-san.

(Sekarang, bagaimana kau akan menghadapinya...!?)

Aku mengamati dengan cermat agar tidak ketinggalan setiap gerakan yang dia buat.

Kemudian dia mengibaskan pedangnya pada kecepatan yang tak terbendung dan memotong Flying Shadow dari depan. Ya, hanya itu saja.

(Kau bercanda, kan ...!?)

Dukung saya supaya lebih semangat tl-nya dengan meng-klik ikon trakteer.id di bawah ini
Previous Post
Update lainnya