Chapter 16 Part 2 – Akademi Pedang Seribu dan Festival Suci Lima Besar [6]
Pada saat Sid-san mewujudkan gaun jiwanya “Vanargand”, aku segera menyadari sesuatu yang tak biasa.
(...Suhunya turun?)
Padahal sekarang masih siang, tidak ada awan di langit, dan matahari juga terbit tinggi.
Meskipun demikian, udara di luar sudah cukup dingin untuk membuatku merasa dingin. Melihat lebih dekat, aku perhatikan pedangnya memuntahkan kabut putih berawan.
(Jadi itu sumber dari udara dingin ini...?)
Saat aku menganalisis kemampuan gaun jiwanya,
“Kalau begitu, aku akan mengakhirinya dengan cepat...! –〈Freeze Lance〉!”
Tombak besar setinggi dirinya muncul di udara.
Itu tombak es yang indah dan transparan.
(Sudah kuduga ... Jadi gaun jiwanya tipe manipulasi udara dingin?)
Aku fokus pada tombak es sambil mempertahankan Seigan no Kamae.
Lalu saat berikutnya,
“Ayo, menarilah!”
Tombak es berkecepatan tinggi ditembakkan ke arahku.
“ーHA!”
Aku menghadapi dari depan untuk memotongnya.
Namun,
(K-Keras...! Kenapa bisa sekeras ini!?)
Ini lebih keras dan lebih berat dari besi – Jelas ini bukan es biasa.
“GUUOOOOOOOO!”
Entah bagaimana, aku berhasil menangkis tombak ke atas dan meluncurkannya ke udara.
Lalu, ketika aku mengalihkan tatapanku ke arah Sid-san lagi,
“Oi ... ke mana kau melihat?”
Sid-san sudah berdiri di belakangku.
“!?”
“Soraa!”
Aku mencoba menghindar mati-matian dengan melompat ke depan tetapi,
“Guh...!?”
Pedangnya menebas punggungku, dan pada saat yang sama rasa sakit membakar tubuhku. Aku segera bangkit dan meletakkan Sid-san di tengah pandanganku.
(Lukanya ... tidak dalam. Tak apa-apa, aku masih bisa bertarung...!)
Begitu aku menyemangati diri, ketika aku mengangkat kepalaku – tombak kedua sudah siap.
“Hei hei, ini dia yang berikutnya!”
Aku segera menyingkir ke kanan sebelum tombak dilepaskan.
(Aku jangan sampai berhenti berlari...)
Freeze Lance tidak bisa dihancurkan oleh kekuatanku. Kalau begitu, aku setidaknya harus bergerak agar tidak menjadi target.
Lalu,
“Jangan terus lari!!”
Sid-san mensejajarkan bahunya bersamaku dalam satu langkah dan segera menjatuhkan empat rentetan tebasan.
“Kuh ... Gaya Awan - Cirrocumulus!”
Aku mencoba bertahan dengan Gaya paling tercepat saat ini,
“Kaha...!?”
Gagal menahan serangan terakhir – tebasan kuat langsung merobek bahu kiriku.
Untungnya, itu tak sampai mengenai tulang, dan aku masih bisa memegang pedang dengan kedua tangan.
(Sial, ini lebih cepat dari sebelumnya...!?)
Mungkin karena kemampuan Vanargand, kecepatan pedang Sid-san jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Lalu, pertukaran pedang yang sama diulang berkali-kali, dan satu per satu luka di tubuhku semakin bertambah.
(Vanrgand, nama lainnya “Serigala Es yang Kesepian”)
“Haa ... Haa ... Sial...”
Ini situasi tanpa harapan, tetapi aku tak boleh menyerah.
“Allen! Jangan kalah!”
“B-Berjuanglah!”
“Kaki! Dia menggunakan kakinya untuk mempermainkanmu!”
Semua orang di Akademi Pedang Seribu masih semangat-semangatnya bersorak mendukungku.
(Untuk semua orang, aku pasti takkan kalah...)
Namun, aku masih belum menemukan petunjuk untuk mengalahkan Sid-san.
(Betapa ngerinya gaun jiwa Vanargand itu...)
Ia memanipulasi udara dingin secara bebas dan menciptakan tombak es yang sangat keras.
Selain itu, ada juga buff yang meningkatkan kemampuan fisik pemilik.
(Ini permainan kotor...)
Lalu,
“Hei kau ... Mungkin.. kau mengira aku『 jadi lebih cepat 』 ya kan?”
Apa dia membaca pikiranku?
“Itu salah kaprah ... bukan begitu lho ya...”
Sid-san menggelengkan kepala sambil menggigit tawa.
“…Apa maksudmu?”
“Haa, jadi kau belum sadar juga ... Lu itu udah jadi 『lemot』”
Mengatakan demikian, dia menunjuk tanganku.
Mendengarnya, aku pun menjatuhkan pandanganku di kedua tanganku.
“I-Ini...?”
Akhirnya aku sadar. Anggota tubuhku mulai menjadi ungu pucat.
“Yo yo, kau tahukan hipotermia?”
(Kondisi ketika suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35°C)
Seolah mengungkapkan rahasianya, Sid-san mengangkat Vanargand yang terus menyemburkan udara dingin saat kami berbicara.
(Sial, dia sudah memperdayaiku ya...)
Aku tidak menyadari adanya kelainan di tubuhku karena aku terlalu fokus akan tombak es itu dan tekanan Sid-san.
(Sepintas, tak ada tanda-tanda bahwa Sid-san mengigil kedinginan...)
Dia, yang menggunakan Vanargand, sepertinya tak terpengaruh oleh udara dingin yang berasal darinya.
(Ini ... buruk…)
Semakin lama pertandingan ini berlangsung, semakin banyak suhu tubuhku menghilang. Yang akan menempatkanku pada posisi yang kurang menguntungkan.
(Kalau tetap seperti ini, keadaanku akan semakin memburuk...)
Untuk saat ini tubuhku masih menuruti keinginanku, aku harus menyelesaikannya sesegera mungkin.
Menjadi tak sabaran, aku segera berlari menuju Sid-san.
“Eight Sword - Yatagarasu!”
Yatagarasu yang seharusnya menghasilkan delapan tebasan, berakhir hanya dengan enam tebasan.
“Gyahahahahaha! Ada apa ada apa aaa!? Hanya ada 『enam』, loh!?”
Dengan tawa, Sid-san dengan mudah menembak keenam tebasan.
“Guh...”
Dalam tubuh dengan fungsi yang berkurang separah ini ..... tak ada lagi peluang untuk menang dalam pertandingan head-to-head.
(Kalau begitu, aku harus menyerangnya menggunakan cara ini...)
Lalu aku meletakkan “Second Sword - Hazy Moon” di berbagai tempat, sambil bertukar serangan dengannya agar ia tidak mencurigainya.
Tapi,
“Haa... Haa...”
“Nn ー, sudah mencapai batasmu?”
Sid-san, yang yakin akan kemenangannya, datang perlahan ke arahku dengan pedang di pundaknya.
(...Posisi sempurna)
Setelah itu, jika dia datang ke sini, Hazy Moon akan meledak.
(Tak peduli seberapa cepat kecepatan reaksinya ... Serangan dari titik buta benar-benar tak terhindarkan...)
Dan kemudian aku mempertahankan sikap Seigan no Kamae agar aku tidak terlihat mencurigakan –
Dan akhirnya kakinya berhenti tepat.
Lalu,
“...Oi Oi Oi, jebakan macam apa yang mudah dilihat ini?”
Dia melewati pedang melalui ruang tempat aku menempatkan Hazy Moon. Menanggapi gerakannya, Hazy Moon memotong udara dengan sia-sia.
“Kukuku, bagaimana jebakan yang jelas seperti ini bekerja? Paling-paling, hanya pendekar pedang kelas dua yang bakal terjebak.”
Mengatakan demikian, ia menutup jarak denganku dalam sekejap,
“Soraa!”
Tendangan depan yang kuat mengenai perutku.
“Ga-haa...!”
Aku mendengar suara gemeretak tulang karena patah, dan berguling-guling di tanah seperti bola.
“…*uhuk uhuk*!”
Mungkin tulang yang patah telah merusak organ dalam, karena aku memuntahkan darah.
“Oi Oi kotor sekali! Menurutmu siapa yang akan membersihkannya nanti!? ... Waduh, maaf, aku bahkan tidak tahu!”
Kemudian Sid-san menginjak wajahku tanpa ampun dan tertawa keras,
“Hahahahahahahaha!”
“H-Hei, itu terlalu berlebihan!”
“Jangan terlalu sombong...”
Ria dan Rose memelototi Sid-san dengan tatapan membunuh. Kemudian ia mengekspresikan wajah campur aduk dan menggaruk-garuki pipinya.
“Aa– ... maaf ya. Tentu ini terlalu berlebihan ... Un, aku akan segera membunuhnya.”
Saat itulah ia menyodorkan Vanargand padaku.
Menurut aturan Festival Suci Lima Besar, tindakan yang menyebabkan lawan mati dilarang. Namun, dia tak peduli tentang itu, dan akan membunuh tanpa ragu-ragu.
“Cih, jangan bercanda!”
“W-Wasit! Hentikan dia!”
“Kontestan Sid, tolong hentikan!”
Wajah Ria dan Rose menjadi pucat dan wasit melompat ke atas panggung. Namun, sama sekali tidak mungkin tiba tepat waktu, pada jarak ini.
(Sial, apa ini ... akhir riwayatku...)
Karena radang dingin yang parah, tubuhku tak bergerak dengan benar lagi. Tidak, tak mungkin untuk bergerak karena Sid-san pada awal telah menginjak perutku.
“Ha ha! Ini sangat menyenangkan. Aku akan membuat mayat yang membuatku tertawa!”
Lalu,
“—〈Vanal Thrust〉!”
Sejumlah besar udara dingin dilepaskan dari Vanargand, dan dorongan dengan propulsi eksplosif mendekati tenggorokanku.
Jika itu mengenaiku — aku akan mati tanpa daya.
(Hanya sampai di sini ya...?)
Aku mengayunkan pedangku setiap hari.
Aku berlatih lebih keras daripada orang lain.
Aku menghabiskan lebih banyak waktu demi ilmu pedang daripada orang lain.
Selama lebih dari satu miliar tahun, aku terus mengayunkan pedangku.
Tetapi pada akhirnya — aku tidak berguna.
Aku tak berdaya di hadapan bakat absolut.
(Ria, Rose, Leia-sensei, Paula-san, dan ibu ... maaf)
Tiada keraguan lagi aku akan mati di sini hari ini.
Tubuhku tak bisa lagi menggerakkan satu jari pun.
Pedangku sudah terbang entah ke mana.
Tapi tetap saja — hatiku tidak patah.
Di depan kematianku yang akan datang — tiba-tiba aku membuka mata lebar-lebar.
Mataku tak bisa terpejam.
Menuju nafas terakhir, tiba-tiba aku berpegang teguh pada 『kehidupan』.
Bertentangan dengan tubuh yang tak bergerak, aliran emosi negatif bergejolak di hatiku.
(Aku frustrasi, aku tak ingin mati, aku tak mau kalah — aku ingin mengalahkan si jenius ini!)
Pada saat itulah, ada sesuatu yang berbisik di lubuk hatiku – sesuatu seperti 『jiwa』.
【Seperti biasa, kau memalukan ... Allen】
Pada saat itulah, kesadaranku ditelan kegelapan.

