Jumat, 03 Januari 2020

The Dropout Swordsman-Spamming the 100 Million Years Button - Chapter 18 Part 02 Bahasa Indonesia

Chapter 18 Part 2 – Pendekar Pedang Sihir dan Organisasi Hitam [1]

Kami mengikuti Rose di kiri dan kanan untuk menuju ibukota, Orest.

Setelah cukup waktu berlalu sejak kami berangkat dari Akademi Pedang Seribu — sebuah bangunan-bangunan tertentu mulai terlihat.

“Kita sudah sampai.”

Seperti yang kuharapkan, Rose berhenti tepat di depan gedung.

“J-jadi di sini Asosiasi Pendekar Pedang Sihirnya...!”

“K-Kamu bercanda kan…!”

Bangunan tiga lantai ini mungkin belum direnovasi selama bertahun-tahun. Dinding luarnya mulai mengelupas, dan grafiti mencolok terlihat di sana-sini. Itu jelas merusak pemandangan sekitarnya...

(Apa Pendekar Pedang Sihir itu profesi yang penuh dengan orang barbar...?)

Ksatria Suci itu tekun dan jujur.

Pendekar Sihir itu sembrono dan tidak jujur.

—Ini adalah citra dari masyarakat umum.

(Aku pikir citra pekerjaan ini berasal dari diskriminasi dan prasangka turun-temurun, tapi...)

Setelah melihat bangunan ini, aku rasa citra ini sudah pas...

Ketika Ria dan aku tersentak pada dinding luar eksentrik ini,

“Ada apa? ... Ayo masuk.”

Rose meletakkan tangannya di pintu seolah itu rumahnya sendiri.

Anehnya, dia tampak tak terganggu sama sekali.

“E-Eh ... apa kita benar-benar pergi ke sini? Maksudku, apa ini benar-benar Asosiasi Pendekar Pedang Sihir?”

Ria, 『putri』 dari negara sebelah, menunjukkan penolakan yang jelas. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya.

Lalu,

“Un, itu benar.”

Sembari tangan masih di pintu, Rose mengangguk.

Ria dan aku saling memandang, dan mengangguk.

“Kali ini, kita tak punya pilihan lain selain masuk...”

“Be-benar ... Un, sekarang ayo kita masuk...”

Mungkin hanya bagian luarnya yang mengerikan, dan bisa jadi bagian dalamnya mengejutkan.

Angan-anganku pun hancur berkeping-keping dalam 2 detik saat masuk ke dalam gedung.

“I-ini…?!”

“Baunya sangat menyengat...”

“Betulkah? Menurutku baunya seperti biasa...” (Rose)

Sesaat setelah membuka pintu — bau alkohol yang menyengat menyambut kami.

Rupanya ada kedai di dalam Asosiasi Pendekar Pedang Sihir, dan banyak orang minum-minum walaupun hari masih siang.

(Ini…)

Ini sesuai dengan citra yang menyebar di masyarakat umum, tidak ... ini malah lebih parah.

Kesan Ria tampaknya juga sama, dan wajahnya berkedut secara terang-terangan.

Saat kami berdiri tertegun di pintu masuk,

“Hic ... siapa ... kalian ... wajah-wajah kalian seperti baru pertama kulihat di sini...”

Seorang pria mabuk yang kelihatannya adalah seorang Pendekar Pedang Sihir, mendekati kami sambil berseru.

“... Ria, Rose, mundur.”

Aku berbisik dan berdiri di depan mereka.

“Ooo ... hic, perhatikan baik-baik gadis-gadis kecil, kalian terlihat cantik sekali...! Jadi bagaimana kalau kalian minum sedikit bersamaku...?”

Dia mendekati sini dalam keadaan terhuyung-huyung

…Ini berbahaya.

Kusimpulkan demikian.

“––Maaf, tapi ada hal yang harus kami lakukan.”

Aku berdiri di depan mereka berdua, dan dengan sopan menolak tawarannya.

Lalu,

“Cih …… siapa juga yang .... ngomong sama elu!!!!”

Dia mengayunkan botol mirasnya ke kepalaku. Itu mengenai bagian atas kepalaku dan pecah. Dan aku terguyur air miras dari kepalaku.

“A-Apa yang kamu lakukan! Kamu baik-baik saja kan, Allen!?”

“Apa yang kamu lakukan…!?”

“Gyahahahaha! Dasar pengecut! Elu jadi basah kuyup tuh!”

Pria mabuk itu menertawaiku sambil memegangi perutnya.

“Hei…!”

“Ini sudah kelewatan...!”

Ria dan Rose, membelalakkan mata mereka dalam kemarahan dan mencoba menyerang pria itu.

“––Tak apa-apa, kalian berdua.”

Aku menyarankan mereka untuk berhenti.

Kita sekarang, di tengah hukuman. Jika kita membuat keributan di tempat seperti ini, kita akan membuat masalah lagi untuk Leia-sensei.

“Lagian – ini hanya botol miras.”

Ya. Marah hanya karena masalah sepele, hanya akan melelahkan kita.

“H-hanya botol miras...!?”

“Biasanya, ini akan menyebabkan cedera serius...”

“Tidak, coba lihat ... tidak ada apa-apa, kan?”

Lalu aku tunjukkan pada mereka kalau aku tidak terluka, dengan menyeka pecahan beling di kepalaku.

“Tidak mungkin…!?”

“Tidak ada cedera...”

Kali ini, aku benar-benar basah kuyup oleh miras.

(Mungkin dia hanya sedikit menahan tangannya saat memukul.)

Meskipun botol miras itu mengenai langsung, tak ada satu pun luka di kepalaku.

“Sa~, ayo pergi.”

“U-Un...”

“K-kalau Allen bilang begitu...”

Lantas kami melewatinya dan berjalan menuju resepsionis.

Kemudian para Pendekar Pedang Sihir lainnya yang telah menyaksikan seluruh adegan ini, mulai tertawa serempak.

“Kukuku ... Oi Oi, Dread! Sepertinya loe bahkan tidak dianggap sebagai lawan olehnyaaaa~!”

“Gyahahahaha, malah kabur! Loe dibodohi oleh bocah-bocah sialan itu!”

“Menyedihkan sekali, Oi! Loe harusnya berhenti saja jadi Pendekar Pedang Sihir!”

Pendekar Pedang Sihir yang menerima ejekan dari kelompoknya – Dread-san, gemetar karena marah.

Astaga ... Orang-orang ini sudah kelewatan.

“Oi, bangsat...!”

Harga dirinya terluka – tanpa ragu-ragu, ia mengeluarkan pedang yang disarungkan di pinggangnya.

“Jangan pikir elu akan bebas setelah membodohiku ...!”

Dalam upaya untuk mengintimidasiku, ia mengayunkan pedangnya dua sampai tiga kali, menunjukkan arahku.

(...Ha, aku tidak bisa membiarkannya kali ini)

Aku menatap matanya dengan tegas dan memberitahunya.

“Pedang bukanlah alat untuk mengancam. Apa kau ... benar-benar yakin tentang ini?”

Aku memastikan.

Aku dengan mantap menegaskan arti dari tindakan seorang pendekar pedang yang mengeluarkan pedang.

Mungkin karena pengaruh miras, Dread-san mundur dua langkah.

“Uu...!?”

(!? I-ini hawa haus darah Allen...?!)

(Sangat berat, dan sangat menyakitkan...?!)

Lalu,

“M-Maafkan aku ... kasihanilah aku, sepertinya aku terlalu mabuk ... sekarang aku sudah sadar ... seperti yang kau lihat, tolong maafkan aku...”

Dia segera menyarungkan pedangnya, dan membungkuk dalam-dalam.

“...Baiklah. Berhati-hatilah saat minum terlalu banyak.”

Aku menerima permintaan maafnya.

Setiap orang membuat kesalahan.

Begitupun diriku, dan yang paling penting, tidak ada kerusakan di tempat ini. Hanya tubuh dan pakaianku yang berbau alkohol.

Apabila ia meminta maaf secara jujur, maka itu tidak masalah.

“A-Aa...! M-Maaf! Lain kali, aku akan mentraktirmu...!”

Mengatakan itu, ia dengan cepat meninggalkan Asosiasi Pendekar Pedang Sihir.

Aku senang dengan tawarannya, tapi ... aku masih di bawah umur, jadi aku tidak bisa minum.

Lalu,

“A-Allen...?”

Ria memanggil namaku dengan suara sedikit lirih.

Mungkin karena ia tiba-tiba terjerat dengan seorang Pendekar Pedang Sihir, matanya agak takut.

Mungkin ia, yang merupakan seorang putri, belum pernah mengalami pengalaman seperti ini. Pantas saja.

“Kamu baik-baik saja kan, Ria? Haruskah kita istirahat dulu di suatu tempat?”

“U-Uun, aku baik-baik saja kok. Hanya sedikit kaget.”

“Kalau begitu baguslah, tapi ... kalau kamu merasa tak enak, jangan paksakan dirimu, beritahu saja aku.”

“U-Un...! Terima kasih, Allen! (Syukurlah ... Ini Allen yang biasa, baik, dan lemah lembut...!)”

Kemudian, kami melangkah ke bagian belakang di ruangan Asosiasi Pendekar Pedang Sihir yang menjadi tenang entah kenapa, dan menuju ke meja resepsionis.

Dukung saya supaya lebih semangat tl-nya dengan meng-klik ikon trakteer.id di bawah ini
Previous Post
Update lainnya