Kamis, 12 Desember 2019

The Dropout Swordsman-Spamming the 100 Million Years Button - Chapter 12 Part 01 Bahasa Indonesia

Chapter 12 Part 1 – Akademi Pedang Seribu dan Festival Suci Lima Besar [2]


Sehari setelah aku secara resmi diakui sebagai anggota partisipan dalam Festival Suci Lima Besar, itu adalah hari libur karena hari peringatan berdirinya Akademi Pedang Seribu.

Walaupun begitu, semua fasilitas akademi masih dibuka.

Karena alasan ini, banyak siswa akan memasuki area pelatihan untuk melakukan latihan hari ini.

Waktu menunjukkan pukul 7:00 di pagi hari.

Aku sarapan bersama Ria, mencuci muka, menyikat gigi, dan bersiap-siap di pagi hari.

Sementara itu, dia duduk di kursi meja rias dan mengikat rambut pirang panjangnya yang indah dengan pita merah anggur yang elegan, membuat twintail seperti biasa.

Berganti dari pakaian tidur ke seragam akademi di ruang ganti, aku mendengar Ria bersenandung. Sepertinya moodnya sedang bagus hari ini.

Melihat keluar jendela, aku bisa melihat sinar matahari yang hangat menerangi sekitar.

(...Cuaca yang bagus. Cocok untuk latihan)

Rasanya sudah lama sekali sejak aku tidak di-bully oleh siapa pun dan dengan tenang mengayunkan pedang.

Akhir-akhir ini, aku berduel dengan Ria, pertarungan pura-pura dengan trio, dan tes praktik.

Karena alasan itu, aku hanya punya sedikit waktu untuk latihan sendiri dan merasa sedikit stres.

(Fufu, haruskah aku langsung pergi latihan dari pagi sampai malam?)

Kemudian, begitu pedangnya kugantung di pinggangku, aku menyadari bahwa aku telah lupa botol air di lemari es.

(Ups, hampir hampir saja)

(TLN: Kalau lupa ya jadi es batu nantinya)

Saat aku ambil botol airnya yang telah didinginkan semalaman, pada hari ini..

“Nee nee, Allen. Apa kamu bebas hari ini?”

Ria bertanya sambil tersenyum gembira.

(...Jujur, sangat sulit untuk menjawab pertanyaan seperti itu)

Itu karena, apa aku bebas atau tidak.. tergantung pada apa isi rencananya yang akan ia buat nantinya.

Kalau bisa, aku ingin dia bertanya setelah isi rencananya ia nyatakan lebih dahulu.

(Bagaimana aku harus menjawabnya...)

Aku tebak dari mood bagusnya ... ini jelas merupakan ajakan ke suatu tempat. Aku tak tahu apakah itu pusat pelatihan atau pusat perbelanjaan di kota....

(....bagaimana jawabnya ya)

Saat aku memeras otakku,

“...M-Maaf, apakah kamu benar-benar sibuk?”

Dia meminta maaf dengan tatapan putus asa.

(Tentunya, latihan pedang itu penting, tapi ... Menghabiskan waktu bersama Ria dan teman-teman juga sama pentingnya.)

Aku bisa mengayun ke mana pun dan kapan pun asalkan aku membawa pedangnya.

Tapi tidak selalu mungkin bergaul dengan Ria.

(Pertama-tama dia adalah seorang putri ... aku tidak tahu kapan dia akan kembali ke negara asalnya, Vesteria)

Setelah mempertimbangkan semuanya, aku berkata dengan lembut untuk menghilangkan kecemasannya.

“....Aku bebas. Aku benar-benar senggang hari ini.”

Dia mendengar jawaban dan bertepuk tangan.

“Yay! Kalau begitu mari kita pergi makan Ramzac bersama hari ini!”

“…Ramzac?”

Sepertinya aku pernah dengar nama itu....

“Kamu sudah lupa ya? Hora, aku kan sudah bilang padamu waktu itu. Negara asalku .... hidangan tradisional Vesteria yang itutu!!”

Ah ... aku ingat.

Omong-omong, kami memang membicarakannya beberapa hari yang lalu.

“Ada restoran Ramzac yang lezat di sekitar sini, jadi ayo kita makan siang di sana!”

“Ah, aku tidak keberatan.”

Dengan demikian, jadwal makan siang hari ini diputuskan.

Setelah makan siang, kami mungkin bersama-sama akan pergi berbelanja ke suatu tempat.

Sayangnya, masih belum memungkinkan untuk berlatih hari ini.

(Tapi ... mungkin lebih baik menikmati liburan seperti ini)

Saat aku dengan sekilas menatap Ria dengan tatapan samping, dia tampak sangat bahagia.

Jadi kami menghabiskan waktu sendirian di kamar sampai tengah hari.

■

Sekitar tiga jam kemudian.

Jam menunjukkan pukul 12 pada siang hari.

Kami memberanikan diri keluar ke kota untuk makan Ramzac.

Kami berdua memakai seragam Akademi Pedang Seribu.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa itu sulit untuk berganti pakaian pribadi, tetapi siswa dari Lima Akademi pada dasarnya didorong untuk keluar dengan seragamnya masing-masing.

Mengakui diri kami sebagai siswa dari Lima Akademi, dan menjadi contoh pendekar pedang yang baik setiap saat di masyarakat, tampaknya menjadi makna di baliknya.

Seperti yang diharapkan, Lima Akademi yang menghargai tradisi dan formalitas, cukup ketat.

(Yah, ini hanya “anjuran” dan bukan “kewajiban”)

Karena itu, memakai pakaian biasa tidak akan jadi masalah, tapi ...

“Allen, ayo pakai seragamnya hari ini!”

Ada permintaan kuat dari Ria, jadi kami pun pada akhirnya memakai seragam.

Dia berkata, “Karena tak ada banyak waktu dalam hidup, ketika kita bisa memakai seragam dan berjalan-jalan di depan umum tanpa khawatir.”

Tentu saja, alasan semacam itu juga masuk akal.

Lalu saat kami berjalan di jalan raya bersama,

“Unn~ ... hari ini cuacanya bagus ya!”

Ria berkata sambil tersenyum, mengulurkan tangan kanannya ke arah matahari.

“Aa, cocok untuk lati– .... jalan-jalan.”

Sejenak 『keinginan latihan』 -ku meluap, jadi aku buru-buru memperbaiki ucapanku.

Namun,

“...Barusan, kamu bilang latihan?”

Ria yang tidak ketinggalan kata-kataku yang keceplosan, menatap lurus ke wajahku.

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dan menatap lurus ke matanya juga.

“Itu cuma imajinasimu. Seperti yang kuduga, aku bahkan tidak memikirkan pedang selama aku pergi bersama Ria.”

Ini bukan bohong.

Aku benar-benar tidak memikirkan apapun tentang “ilmu pedang”.

Hanya saja, pikiran tentang “mengayunkan pedang” -lah yang baru saja melewati kepala sejenak.

Aku bertanya-tanya apakah ini efek setelah mengayunkan pedang secara tak sadar selama lebih dari satu miliar tahun, sehingga di mana pun aku berada atau apa pun yang aku lakukan, aku akhirnya berpikir “mari kita ayunkan pedang.”

Ini mungkin sudah semacam penyakit...

Kemudian, selama 4 sampai 5 detik, kami saling bertatap-tatapan, memandang lurus.

Lalu,

“Be-begitu ya.. maaf karena sudah mencurigaimu.”

Pipinya memerah dan memalingkan muka.

Sepertinya dia percaya padaku.

“Oh, jangan khawatir. Yang lebih penting, apa arah jalannya sudah benar?”

“U-un, tidak apa-apa karena aku sudah sering ke sana!”

“Oh, kalau begitu tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.”

Setelah itu, saat kami mengobrol santai sambil menuju ke restoran Ramzac,

“…Ah.”

Kami tiba-tiba bertemu Rose-san yang juga memakai seragam.

“Allen, dan Ria…?”

“Selamat pagi, Rose-san. Aneh melihatmu di tempat seperti ini.”

Aku mengangkat tangan kananku dan menyapanya.

“....Kenapa kalian berdua bersama?”

Mungkin dia sedang tidak dalam mood yang baik hari ini, karena dia menatapku dan Ria secara bergantian dengan tatapan mencela.

“Yah uhh ... Kami berencana untuk makan hidangan yang disebut Ramzac.”

“…Ramuzak?”

Rose-san memiringkan kepalanya karena bingung.

Tampaknya itu seperti hidangan yang bahkan tidak dia ketahui.

“Ramzac adalah hidangan tradisional dari Vesteria, negara asal Ria. ....Oh iya, Rose-san, kenapa kamu tidak ikut juga?”

“EHH…?”

Untuk sesaat, Ria berteriak dengan bingung.

“Aku ikut.”

Begitu Rose-san menjawab, dia berbaris di sampingku.
Lalu,

“...lewat sini. Ikuti aku.”

Entah kenapa, Ria mulai berjalan cepat sambil cemberut.

■

Setelah itu, ketika kami berjalan ke kanan dan kiri dengan bimbingan Ria, kakinya berhenti di depan sebuah toko.

“Baiklah, kita sudah sampai. Inilah toko favoritku – Vesland.”

Itu adalah bangunan bata dengan cerobong besar di atasnya, dan rasanya seperti suasana retro.

“Wow, toko ini terlihat bagus!”

“Aku suka toko dengan eksterior seperti ini.”

“Fufu, ayo masuk.”

Ketika kami memasuki toko dengan Ria di depan, yang tampaknya sedikit memperbaiki suasana hatinya,

“Selamat datang, apakah tidak apa-apa untuk tiga orang?”

Seorang pelayan yang mengenakan topi koki segera menyambut kami.

Ria mengangguk mewakili kami bertiga.

“Tentu. Silakan lewat sini.”

Untungnya, tampaknya ada meja kosong dan kami pun segera dibawa ke meja untuk empat orang.

Ria duduk tepat di sampingku, dan Rose-san duduk di seberangku.

Pelayan cepat menyiapkan air gelas untuk tiga orang,

“Silakan hubungi kami setelah pesanan Anda selesai.”

Setelah mengatakannya dengan sopan, dia kembali ke dapur.

Lalu aku melihat-lihat toko itu entah bagaimana.

Ada banyak tamu dengan keluarga karena siang hari, dan ada suasana yang menyenangkan dan hidup.

(Pelayannya sopan dan basis pelanggannya tidak buruk... Ini toko yang bagus...)

Sambil memikirkan itu,
“Hei, hei, lihat sini, ini Ramzac loh!”

Ria dengan penuh semangat menunjuk gambar Ramzac di menu.

“Oh, ini pasti enak!”

“Un, tidak buruk.”

Dari yang aku lihat di gambar, Ramzac tampaknya merupakan lapisan pai (Pastei) segitiga seukuran gigitan yang diisi dengan sup daging sapi dengan banyak daging sapi.

Rebusan daging sapi dengan banyak daging sapi dalam adonan pastei, tidak mungkin rasanya tidak enak.

 Ini sepertinya cukup menjanjikan.

“Ada banyak menu sampingan ... Ini pertama kalinya bagi kalian berdua, jadi Ramzac sendiri seharusnya baik-baik saja, kan?”

“Aa, itu sudah cukup.”

“Tidak masalah.”

Setelah memastikan pesananku dan Rose-san, Ria mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan.

“Permisi...!”

Pelayan yang mendengar suara Ria, segera datang dari dapur.

“...Maaf membuat Anda menunggu. Apakah Anda akan melakukan pemesanan?”

“Ya, baiklah, tolong beri aku satu piring Ramzac.”

“Saya mengerti.”

Kemudian pelayan itu dengan sopan menundukkan kepalanya, dan langsung kembali ke dapur.

“『Piring Ramzac』 hadir dalam jumlah yang menakjubkan! Jadi ... bahkan tiga orang dewasa, hampir tidak sanggup menghabiskan semuanya!”

“Hee~ Meskipun hanya satu porsi?”

“Ya! Pertama kali aku memesan, aku hampir tidak sanggup menghabiskannya!”

……Pada waktu itu, apa Ria memakannya sendiri? Atau apa dia punya teman lain dan makan bersama dengan mereka?

Sejujurnya, aku penasaran, tetapi aku tidak bertanya karena itu adalah sesuatu yang pada akhirnya akan aku ketahui sendiri.

Setelah menunggu 10 menit.

“Terima kasih sudah menunggu. Ini piring Ramzac-nya.”

Pelayan meletakkan piring besar isi Ramzac ditumpuk di atas meja.

“I-Ini...?!”

“Apa bisa kita habiskan…!?”

Sekilas, tampaknya ada setidaknya 30 Ramzac yang lebih besar dari ukuran kepalan tangan.

Bahkan kalau itu dibagi jadi tiga bagian yang sama, itu setidaknya sepuluh.

(Ini sedikit lebih besar dari gambar...?!)

Biasanya, hidangan seperti ini sedikit lebih kecil dari gambar, tapi...

Jujur, aku tidak yakin bisa makan semuanya.

“Fufufu, luar biasa, kan?”

Sementara aku dan Rose-san tertegun, hanya Ria yang bersinar dengan mata berbinar.

“Ukurannya tak wajar... Tapi ini memang terlihat bagus.”

“Un, baunya sangat enak... Tapi terlalu banyak.”

“Benerkan!? Ayo, ayo kita mulai menggali selagi masih panas!”

Lalu kami menempatkan telapak tangan kami bersama dan,
“““Itadakimasu!”””

Dan kami mengisi mulut kami secara bersamaan.
“Nn ... ini dia!”

“Uh! .....Ini enak!”

“Hamuu...! …Lezat.”

Daging sapi yang agak renyah dan rasanya manis.

Sup daging sapi yang panas dan kaya rasa.

Adonan pastei renyah yang menciptakan tekstur renyah.

Ramzac, seperti yang terlihat, memiliki volume tertentu dan sangat lezat.

“Benarkan benarkan! Ini hidangan populer di negaraku!”

Ria dengan riang memasukkan Ramzac satu per satu ke dalam mulutnya, saat hidangan tradisional dari negara asalnya dipuji.

Dukung saya supaya lebih semangat tl-nya dengan meng-klik ikon trakteer.id di bawah ini
Previous Post
Update lainnya