Rabu, 11 Desember 2019

The Dropout Swordsman-Spamming the 100 Million Years Button - Chapter 11 Part 03 Bahasa Indonesia

Chapter 11 Part 3 – Akademi Pedang Seribu dan Festival Suci Lima Besar [1]

Giliranku pun akhirnya tiba.

Aku berdiri di depan bambu di atas alas dan menarik napas panjang-panjang. 

(Tebasan Iai, ya…)

Kalau aku ingat-ingat lagi, rekor terbaikku di Akademi Ilmu Pedang  Gran adalah 1,2 detik.

Masa itu, masa-masa ketika tebasan Iai merupakan kelemahan bagiku, tetapi sekarang aku sudah berlatih selama lebih dari satu miliar tahun, jadi pada masa ini, tebasan Iai mungkin akan jadi keahlian terbaikku.

Momen ketika napasku teratur dan pikiranku mencapai keadaan nol, aku menghunus pedang dalam satu napas.

“-Shhh!”

Ini adalah tebasan tercepat yang bisa aku keluarkan sekarang.

“Hou!”

Leia-sensei yang melihat tebasan iai-ku dari samping mengeluarkan suara keheranan.

Tebasan tadi bahkan aku pikir terlihat bagus.

Jadi aku tinggal menunggu hasilnya pada si pengukur....

“……”

…Eh?

Entah kenapa si pengukur itu malah diam.

“P-permisi, hasilnya berapa detik?”

Jadi aku bertanya padanya.

“…Eh?”

Dia menatap wajahku dengan ekspresi terkejut.

“Eh, tidak, begini ... Maksudku, aku ingin tahu berapa detik catatanku...?”

"Saya juga ingin tahu berapa detik catatannya. Saya akan senang jika kamu bisa memberitahuku dengan cepat tanpa terburu-buru.”

Leia-sensei juga ikut bertanya.

Lantas,

“T-Tidak tidak, apa yang kalian berdua katakan tadi? Dia masih belum memotong bambunya, kan?”

Si Pengukur memiringkan kepalanya karena bingung.

“Em ... aku sudah memotongnya....”

“Ya, seperti yang dikatakan Allen.”

Aku menyodok bambu itu dengan jari-jariku. Begitu aku lakukan, bambu yang terbelah dengan rapi itu perlahan-lahan tergelincir ke tanah.

Pada saat itu, teman-teman sekelas yang menonton dari belakang menjadi berisik.

“Ti-tidak mungkin…kan!?”

“Ya, aku tidak bisa melihatnya sama sekali ...”

“Loh, kapan dia menebasnya...!?”

Pada saat yang sama, si pengukur itu mengucek-ngucek matanya dan berlari ke bambu yang telah terbelah dua.

“I-ini Mustahil...!? Aku yang seorang veteran 50 tahun ... Tidak menyadari tebasan ini...!?”

Seluruh tubuhnya gemetar, dia berulang kali menempelkan dan memisahkan dua potongan bambu.

Dari sudut pandang pengamat, ia tampak jadi gila.

“Tapi masalahnya ... Bisakah kamu mengukurnya dengan kecepatan itu?”

Leia-sensei meletakkan tangannya di dagu, dan dengan tatapan gelisah, dia ingin menemukan solusi dari masalah ini.

“Fumu ... mau bagaimana lagi. Allen, bisakah kamu memotongnya sedikit lebih lambat kali ini?”

“L-lebih lambat…?”

“Aa, aku minta.”

“Ha-haa… aku mengerti…”

Aku tidak pernah menyangka kalau “lambat” akan diperlukan dalam tebasan Iai, yang mana kita dituntut untuk bersaing dalam kecepatan.

Sekali lagi aku berdiri di depan set bambu baru dan menyiapkan pikiran dalam jumlah sedang

Lalu,

“–Sh!”

Tebasan yang sengaja kuperlambat saat keluar dari sarungnya memotong bambu itu.

“0.1 detik. Dengan tebasan yang diperlambat ... Kau benar-benar pendekar pedang yang menakutkan.”

Dengan rekor terbaik sejauh ini, teman sekelas yang menonton dari belakang menjadi bersemangat.

“Seperti yang diharapkan dari Allen!”

“Malah jauh melampaui harapan…”

Untuk suatu alasan, Ria mengela napas. Sementara Rose-san tampak sedikit putus asa.

“Fumu, mari kita simpan catatan Allen sebagai catatan sementara. Seharusnya ia memotongnya dalam waktu kurang dari 0,1 detik.”

Kemudian, semua orang mengikuti tes satu per satu, tetapi pada akhirnya aku tidak melihat siapa pun yang mengalahkan rekor sementaraku 0,1 detik.

Selanjutnya 『Tebasan Sepuluh』, tes untuk bersaing seberapa cepat mungkin untuk memotong semua sepuluh boneka dalam garis vertikal.

Sebagai hasil dari menggunakan First Sword - Flying Shadow, aku menetapkan rekor akademi 2.0 detik.

Berikutnya,『Tebasan Beruntun』 adalah tes yang menggunakan model tubuh manusia untuk bersaing seberapa cepat tebasan menyentuh empat titik paling lemah manusia seperti dagu, jantung, hati, dan ulu hati.

Sebagai hasil dari menggunakan Eight Sword - Yatagarasu, tebasanku berakhir dalam 1.0 detik. Segalanya tampak sebagai rekor akademi dan Leia-sensei sangat terkesan.

Tes praktik panjang akhirnya selesai.

“Oke, itu saja untuk ujian praktik hari ini. Semua orang telah melakukan yang terbaik. Setelah ini, gimnasium akan dibuka sepanjang hari. Mengayunkan pedang, pertarungan tiruan, mempraktikkan gaya kalian ... lakukan apa pun yang kalian suka. Kalau begitu ... bubar!”


Dan kemudian Leia-sensei meninggalkan gimnasium.

“Fuuu .... aku agak lelah.”

Karena ini adalah tes praktik pertamaku setelah sekian lama, anehnya aku merasa gugup, jadi aku secara mental lelah daripada fisik.

Dan di saat aku meregangkan tubuh, seorang siswa mendekatiku.

Salah satu orang yang kemarin aku kalahkan. Aku yakin dia si pengguna gaya Zantetsu.

“Yah, Allen. Teknik yang kau gunakan pada saat praktik Tebasan Sepuluh ... Apa itu namanya Flying Shadow?”

“Iya, memangnya ada apa?”

"Itu ... Kalau kau tak keberatan, bisa tidak kau memberitahuku bagaimana cara melakukannya? Nanti aku akan mengajarimu gaya Zantetsu sebagai gantinya!”

“Em ... bagaimana ya, maaf ... Aku masih belum jadi pendekar pedang yang baik untuk mengajar orang lain ilmu pedang.”

(TLN: Dalam versi lain “Err ... tidak, maaf ... Aku masih belum cukup ahli pedang untuk mengajar ilmu pedang ke orang lain.” )

Dan ketika aku menolaknya dengan sopan,

“Tolong aku mohon! Tidak apa-apa kalau kau tidak mengajarkan keseluruhan Flying Shadow! Sedikit tips saja sudah cukup! …kumohon!”

Dia meminta dengan sungguh-sungguh, kedua tangan saling menempel di depannya.

“Uu-un…”

Seperti yang diharapkan, ketika aku dimintai sejauh ini, aku pikir tak ada pilihan lain selain menerimanya.

Bagaimanapun, aku tidak menyembunyikan prinsip teknik Flying Shadow.

Sebaliknya, aku ingin itu ditiru lebih dan lebih sehingga Flying Shadow dapat meningkat dan berkembang.

“...Aku mengerti. Tapi aku tidak terlalu pandai mengajar, jadi jangan berharap lebih ya?”

“Beneran!? Thank you, Allen! Aku mencintaimu!!”

(TLN: What!!!? Gay :v .... btw, “thank you” sudah dari versi jp-nya)

Mungkin percakapan saat ini diam-diam terdengar oleh mereka..

“Oi, tunggu sebentar! Jangan seenaknya nyerobot dong!”

"Hai, Allen, ajari aku teknikmu juga dong! Nanti aku akan mengajarimu dasar-dasar gaya Shingetsu baru!”

“Saya! Saya! Saya juga Allen-kun! Nanti saya ajari gaya Suimei!”

Murid-murid lain juga berbondong-bondong mendatangiku dengan penuh semangat.

“Aa, tentu saja iya.”

Dan sementara aku mendengarkan permintaan semua orang,

“T-Tunggu, Allen! Itu tidak adil, ajari aku juga!”

“Tolong ajari aku juga.”

Ria dan Rose-san, yang keduanya agak terlambat mengambil kedua sisiku.

Setelah itu, semua orang ribut berbincang tentang ilmu pedang.

Selain cara menembak Flying Shadow yang paling diminta, inti dari gaya Zantetsu, dasar-dasar gaya Shingetsu, bentuk gaya Suimei, trik-trik untuk membuat tebasan Iai menjadi sedikit lebih cepat, apa yang selalu kita pikirkan saat latihan ayunan pedang, dan sebagainya ―― Topik tentang ilmu pedang berkembang sekaligus.

 (Benar, aku selalu ingin menghabiskan waktu seperti ini...)

Bergaul dengan semua orang, dan berbicara tentang ilmu pedang favorit masing-masing...

Itulah yang aku idamkan selama tiga tahun di Akademi Ilmu Pedang Gran.

(Tetapi sayangnya, aku tidak memperolehnya karena bullying yang tak masuk akal ... tetapi saat ini, itu berada di telapak tanganku...)

Sementara aku samar-samar mengingat masa lalu, aku merenungkan kebahagiaan yang akhirnya aku raih,

“...Allen, kenapa kamu menangis?”

Ria menatap wajahku dengan khawatir.

Saat aku perhatikan, ada sedikit air mata di sudut mataku saat dia berkata.

Sepertinya aku terlalu emosional.

“Oh ... tidak, tidak. Mataku hanya sedikit kelilipan, tidak usah khawatir.”

Aku menggosok-gosokkan mata dengan berlebihan. Seorang siswa laki-laki mengajukan pertanyaan sambil mengayunkan pedangnya dengan sembrono.

“Hei, Allen! Bagaimana caranya menembak tebasan dari sini?”

“Ha ha. Untuk menembak Flying Shadow, kau harus memegang pedang dengan cara sep-”

Dengan demikian, waktu bahagia yang aku cari sejak aku masih kecil mengalir perlahan.

Dukung saya supaya lebih semangat tl-nya dengan meng-klik ikon trakteer.id di bawah ini
Previous Post
Update lainnya