Jumat, 25 Oktober 2019

The Dropout Swordsman-Spamming the 100 Million Years Button - Chapter 02 Part 01

Chapter 2 Part 1 — Tombol dan Penjara Waktu 100 Juta Tahun [2]

“Apa…? Di mana aku?”

Sebelum aku sadar, aku berdiri di tempat yang tidak aku kenal.

Jika aku ingat dengan benar, aku mendengarkan kisah tombol 100 juta tahun dari lelaki tua yang misterius itu ... lalu ...

“...Oh benar, aku menekan tombol 100 juta tahun.”

Jadi itu artinya, ini adalah 『Dunia Lain』 yang disebutkan oleh pertapa waktu?

Ketika aku melihat sekeliling, sebuah rumah putih di tanah yang bersih mulai terlihat.

Dan satu hal lagi – ada angka besar melayang di udara.

00000000 Tahun 1 Bulan 1 Hari 00 Jam 01 Menit 31 Detik


Mungkin jam dunia ini yang berdetak detik demi detik.

Aku harus meninggalkan dunia ini ketika waktunya mencapai 100 juta tahun.

Dengan kata lain, aku dapat melakukan apapun yang aku inginkan dengan waktu ini.

“Oke ... Yoshi, Yoshi!”

Aku berhasil ... Aku berhasil!

Dengan waktu sebanyak ini, aku pasti bisa menang melawan Dodriel.

Aku dipenuhi dengan kebahagiaan ........ aku dengan erat mengepalkan tinjuku.

(Tapi tetap saja, tak kusangka bahwa cerita gila itu benar!)

Begitu aku meninggalkan tempat ini, aku harus berterima kasih kepada pertapa waktu.

(Tidak, tunggu ... Jika aku tidak salah, ingatanku akan terhapus saat aku meninggalkan tempat ini...)

Yah, tapi tidak apa-apa.

Bahkan jika aku kehilangan ingatan, aku tidak akan kehilangan keterampilan pedang yang didapat di sini.

Setelah 100 juta tahun ― aku di dunia nyata pasti akan menyampaikan terima kasihku.

(Ups, aku tidak harus membuang-buang waktu.)

Aku segera menghunus pedangku dan mulai mengayun.

Meski waktunya lama, sepertinya singkat.

Aku yakin 100 juta tahun akan berlalu dalam sekejap mata.

(Ini adalah kesempatan besarku yang sudah lama ditunggu-tunggu ... Aku tidak bisa membuang waktu sedikitpun ...!)

Setelah itu, aku terus mengayunkan pedangku dengan sepenuh hati dan jiwaku.

Kali berikutnya aku menyadari waktu, adalah ketika perutku mulai menggeram.

“Waktunya makan...”

Ketika aku melihat jam melayang, sekitar 20 jam telah berlalu.

Menebak waktu di dunia lain ini sulit karena tidak ada matahari.

“Baiklah ... Aku harus mencari makan.”

Aku menghentikan latihannya sebentar, dan menuju ke rumah putih di dunia ini.

“Wow, luasnya...”

 Jauh lebih besar dari rumah tempat ibuku tinggal dan asrama tempatku tinggal saat ini.

Dan dalamnya benar-benar bersih. Tidak ada sebutir pun debu.

“Eto ... di mana makanannya...?”

Menurut cerita si pertapa waktu, seharusnya ada toko makanan ajaib yang menghasilkan makanan tanpa batas.

Aku berkeliaran di sekitar rumah sebentar dan menemukan lemari es besar di sebelah dapur.

“Apakah makanannya ada di dalam ini...?”

Aku membuka pintu ganda kulkas yang terbuka dari tengah dan melihat ke dalam,

“Wow…”

Daging, sayuran, ikan, dan susu – semua jenis bahan dikemas dengan rapi.

Aku mengambil tomat besar yang menarik perhatianku, dan menggigitnya.

“……! Ueeenak…!”

Manis manis segar seolah baru dipanen pagi ini, mengalir melalui mulutku.

Kemudian aku mengambil daging dan sayuran kering yang tidak perlu aku masak dulu dan segera pergi ke kamar mandi.

“Woah-! Luasnya...”

Luasnya sekitar 10 kali lebih luas dari yang aku bayangkan.

Selain itu ―

“Aaa- ... air panas yang nikmat...”

Suhunya sempurna meskipun aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya.

Tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin – suhu airnya pas, aku bisa merasakan otot-otot di seluruh tubuhku mengendur.

Setelah itu, ketika aku keluar dari kamar mandi, aku pergi ke kamar tidur dan tak lama kemudian aku pun mengantuk.

Aku tidak bermaksud menghabiskan banyak waktu untuk hal lain selain pelatihan.

Jika aku melakukan itu, 100 juta tahun akan berlalu dalam sekejap.

“Ini sangat lembut...”

Tempat tidur besar di kamar begitu lembut sehingga aku tidak bisa membayangkannya ini dunia nyata.

Dan itu lebih dari sekadar rasa lembut.

Ada juga kekuatan untuk membungkus tubuhku dengan erat.

Sambil terbungkus selimut yang lembut nan hangat, aku bergumam.

“Ini yang terbaik…”

Makanannya lezat.

Mandinya sangat menyenangkan.

Tempat tidurnya empuk.

Apalagi – 100 juta tahun waktu.

Tidak ada kekurangan.

Tidak diragukan lagi ini adalah keadaan terbaik.

“Hehe, aku akan berlatih selama 100 juta tahun di tempat ini ... Aku pasti akan menjadi pendekar pedang yang hebat...”

Dengan harapan cerah dan ambisi kuat di hatiku, aku jatuh tertidur.

■

Sudah 10 tahun sejak aku tiba di dunia ini, aku terus mengayunkan pedangku setiap hari.

Setelah mengayunkan pedangku selama 10 tahun, aku mulai memahami prinsip di balik itu.

(Aku ingin tahu apakah ayunanku telah teroptimalkan sekarang...)

Bagaimanapun, aku tahu bagaimana mengayunkan pedang.

Saat mengayunkan pedang ke bawah, ada waktu di mana aku harus mengerahkan kekuatan, dan sebaliknya waktu di mana aku harus mengendurkan pedang. Aku akhirnya memahami ide di balik teknik ini.

Pada saat 100 tahun berlalu, aku telah menguasai berbagai teknik pedang.

Misalnya seperti ini,

「First Sword ー Flying Shadow!」

Sekarang aku bisa melakukan tebasan terbang.
 
Aku juga mencoba menyebutkan berbagai teknik yang aku pelajari.

Aku merasa seperti aku adalah pendiri sekolah baru dan itu sangat menyenangkan.

300 tahun kemudian.


Aku ... mulai agak lelah.

Bukan secara fisik, melainkan mental.

Mengulangi hal yang sama hari demi hari.

Ayunkan pedang, makan, tidur.

Hal yang sama hari demi hari selama 300 tahun.

Aku lelah secara mental terhadap kehidupan ini.

Suatu hari, aku berjalan-jalan di dunia ini untuk mencari ketenangan.

Anehnya, tempat ini jauh lebih sempit daripada yang aku harapkan.

Kesimpulannya, dunia lain ini hanyalah sebuah bola kecil.

Ketika aku meninggalkan rumah dan berjalan lurus sebentar, aku sampai di pintu belakang rumah. Tempat ini jauh lebih kecil dari halaman sekolah, hanya sebuah bola kecil.

Aku kesepian.

500 tahun kemudian.

Akhir-akhir ini, tidak peduli apa yang aku makan, mereka rasanya sama saja.

Daging, ikan, dan sayuran semuanya rasanya sama.

Rasanya seperti makan karet tanpa rasa.

Aku tahu betul bahwa pikiranku memburuk.

Namun, tidak ada cara untuk keluar dari dunia yang tertutup ini.

Pikiran gundah tidak keluar dari dada, dan hanya frustrasi yang menumpuk dari hari ke hari.

Bahkan bak mandi tidak harus sebesar itu.

Cukup memiliki ruang yang sederhana untuk meregangkan kakiku, itu saja sudah cukup.

Begitu juga tempat tidur.

Memiliki kasur dan selimut saja sudah cukup.

Aku tidak perlu fasilitas mewah seperti itu.

Aku tidak butuh itu – tolong beri aku orang.

Aku ingin bertemu orang.

Aku ingin berbicara dengan mereka.

Bertukar pikiran, dan membagi pengalaman.

Bisa dibilang, aku ingin berinteraksi dengan mereka ... Perasaan seperti itu muncul dalam diriku.

“Ibu ... Apa kamu baik-baik saja?”

700 tahun kemudian.

Kesepian.

Aku sangat kesepian.

Aku merasa akan meledak kapan saja.

Aku ingin keluar dari sini secepat mungkin.

Kebencian membengkak karena pertapa waktu yang mengirimku ke neraka ini.

“...orang itu pasti tahu.”

Betapa tidak berdaya dan kejamnya dunia ini.

Itu sebabnya dia memohon dengan sangat.

Untuk membuatku menekan tombol.

“...Aku tidak akan pernah memaafkannya.”

Dengan keinginan untuk membalas dendam di hatiku, aku terus mengayunkan pedangku hari ini juga.

1000 tahun kemudian.

Aku lupa mengapa aku mengayunkan pedang.

Aku mungkin punya semacam tujuan.

Aku pikir pasti ada alasan mengapa aku mengayunkan pedangku dengan putus asa selama ini.

Tapi aku lupa apa itu.

5000 tahun kemudian.

Tiba-tiba terbesit dalam pikiran.

“Jika aku bunuh diri di sini ... bisakah aku keluar dari dunia ini?”

Kata pertapa waktu.

Jangan pernah… bunuh diri… Meskipun itu adalah dunia lain, kau hanya punya satu tubuh. Jika kau mati, itulah akhirmu.

Ya, aku selalu bisa memilih untuk mengakhirinya kapan saja aku mau.

Gampang.

Cukup tusuk saja pedangnya ke dadaku.

Hanya itu yang diperlukan untuk melarikan diri dari neraka ini.

“Aku bisa mengakhirinya ... Aku akhirnya bisa mengakhiri neraka ini!”

Dukung saya supaya lebih semangat tl-nya dengan meng-klik ikon trakteer.id di bawah ini
Previous Post
Update lainnya